Kemudian, Salat-Salat nafal pun mempunyai ragam yang bermacam-macam. Beberapa di antaranya dikerjakan pada siang hari dan beberapa lagi pada malam hari. Yang dikerjakan pada malam hari itu disebut Salat Tahajud dan mengandung nilai yang sangat penting serta demikian tingginya sehingga Allah Ta’ala berfirman mengenai kelebihannya sebagai berikut:
“Sesungguhnya, bangun tengah malam itu merupakan sarana sangat ampuh untuk menguasai diri dan sarana yang paling kuat untuk mempunyai kemampuan berbicara.” (Al-Muzammil, 73: 7)
Pendek kata, jika seseorang menghayati sendiri, ia akan mengetahui bagaimana kepribadian dapat ditata dengan sangat luas sekali wawasannya, dengannya dihasilkan kekuatan dan tenaga yang istimewa. Para sahabat melakukannya secara istimewa dengan dawam. Rasulullah saw beranggapan mengenai Salat-Salat nafal itu demikian rupa sehinga walaupun hanya bersifat nafal (tidak wajib), beliau malam-malam meronda untuk mengetahui siapakah yang mengerjakan Salat nafal dan siapa yang tidak. Sekali peristiwa, di dalam majelis beliau, Abdullah bin Umar ra disebut-sebut orang bahwa beliau orang baik. Beliau memiliki sifat ini dan itu. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Ya, ia orang baik kalau saja ia suka bersembahyang tahajud.” Karena Abdullah bin Umar ra masih muda, beliau malas dalam melakukan Salat tahajud sehingga Rasulullah saw meminta kepada beliau untuk menaruh perhatian ke arah melakukan Salat tahajud.
Kemudian Rasulullah saw bersabda, Allah Ta’ala berbelas-kasih kepada suami-istri yang apabila pada waktu malam sang suami membuka mata lalu bangkit untuk melakukan Salat tahajud dan membangunkan pula istrinya lalu mengajaknya melakukan Salat tahajud. Dan jika sang istri tidak bangun lalu dipercikkannya air ke muka si istri membangunkannya.
Begitu pula halnya jika sang istri membuka mata maka ia pun melakukan hal serupa, yaitu, ia sendiri melakukan Salat tahajud dan membangunkan juga suaminya. Jika si suami tidak juga bangun, lalu dipercikinya mukanya.
Cobalah perhatikan, pada satu pihak Rasulullah saw menyatakan bahwa penting sekali bagi seorang istri berlaku sopan terhadap suami dan pada pihak lain membenarkan juga memerciki muka suami kalau hendak membangunkan untuk melakukan Salat tahajud. Seakan-akan Rasulullah menganggap Salat tahajud itu besar sekali kepentingannya. Ini menurut pandangan Rasulullah. Sedangkan AlQur’anul Karim mengatakan bahwa bangun tengah malam meluruskan kepribadian. Itulah sebabnya maka Rasulullah bersabda kepada para sahabat agar harus melakukan sembahyang tahajud biarpun hanya dua rakaat.
Kemudian dari sementara hadits terbukti pula bahwa pada bagian akhir malam Allah Ta’ala datang dekat-dekat dan mengabulkan banyak doa. Oleh karena itu, mendirikan Salat tahajud sangat penting dan sangat berfaedah.
(Dzikir Ilahi - Pidato Hadhrat Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad (Khalifatul Masih II ra)
pada Jalsah Salanah 18 Desember 1916, di Qadian - India.)

.jpeg)
Comments
Post a Comment